Connect with us

Bisnis

Harga Minyak Menanjak di Pasar Saham

JARRAK.ID

Published

on

JAKARTA- JARRAK.ID- Seminggu lalu, harga minyak dunia menanjak setelah seminggu sebelumnya turun melemah. Fluktuasi tersebut dipicu oleh pasar ekuitas atau saham yang kembali menguat dan melemahnya dolar Amerika Serikat.

Merujuk pada Reuters padaSenin (19/2/2018), harga minyak mentah berjangka Brent dalam perdagangan naik senilai US$0,51 atau 0,8 persen menjadi US$64,84 per barel, paling tinggi dalam seminggu terakhir.

Berdasar mingguan, harga minyak mentah yang menjadi acuan global tersebut naik lebih dari 3 persen, berbeda dari minggu sebelumnya yang anjlok 8 persen.

Sementara, harga minyak mentah berjangka AS Texas Intermediate (WTI) naik menjadi US$0,34 persen atau setara dengan 0,6 persen menjadi US$1,68 per barel. Jika berdasar pada mingguan, harga WTI naik 4 persen setelah sebelumnya turun 10 persen.

Jumat kemarin, dolar Amerika Serikat menguat dalam sesi perdagagan meski mengalami penurunan mingguan terbesar dalam sebulan ini. Pelemahan dolar AS akan menjadi pendorong permintaan minyak dan komoditas lain yang diperdagangkan dengan menggunakan dolar.

“Saya tidak ingin menyepelekan apa yang dolar AS lakukan. Pelemahan dolar telah sangat mendukung [harga] minyak mentah,” ujar Presiden dan Pendiri Blue Line Futures, Bill Baruch.

Sentimen terhadap kelebihan pasokan (oversuplay) membuat para manajer bertaruh bahwa harga minyak mentah berjangka Brent akan naik lagi dalam delapan pekan.

Komisi Perdagngan Berjangka Komoditas Amerika Serikat membuat pernyataan bahwa para spekulator memangkas posisi beli bersih dan posisi opsi minyak menta berjangka AS pada pekan yang berakhir 13 Februari 2018, dan itu terbanyak sejak akhir Agustus 2017.

“Setelah penurunan tajam yang kami lihat pada Rabu lalu, mungkin ini sudah saatnya pulih,” ujar analis CHS Hedging LLC, Tony Headrick.

“Meskipun demikian, jika Anda melihat jumlah rig, jumlah rig minyak AS yang naik sebanyak tujuh itu seharusnya akan membatasi kenaikan harga minyak mentah yang terlalu ekstrem,” tambahnya.

Baca Juga:  Minyak Turun Karena Aksi Ambil Untung

Menurut laporan mingguan perusahaan layanan perminyakan yang dikelola Baker Hughes, General Electric, jumlah rig minyak AS naik tujuh menjadi 798 rig, tertinggi dalam tiga tahun terakhir. Jumlah rig minyak merupakan indikator produksi di masa mendatang.

Naiknya produksi minyak mentah AS mampu mengimbangi upaya Organisasi Negara Pengekspor Minyak Dunia (OEPC) dan negara produsen minyak lain, termasuk Rusia, untuk memangkas produksi sebesar 1,8 juta barel per hari (bph) hingga akhir 2018.

Berdasarkan pernyataan Badan Adminitrasi Informasi Energi AS (EIA), produksi minyak mentah AS tercatat mencapai 10,27 juta barel pada pekan 9 Februari 2018, lebih tinggi dari produksi Arab Saudi.

sedangkan anggaran pemerintah AS yang disetujui pekan sebelumnya juga diperkirakan akan mendorong produksi minyak mentah AS lebih jauh lagi.

Itu diupayakan dengan mengurangi pajak tiga kali lipat kepada produsen yang menginjeksi karbondioksida kembali ke bumi untuk peningkatan output.

JARRAK.ID adalah portal berita daring yang konsisten dan terukur menyuguhkan informasi akurat. Mengabarkan fakta dengan berimbang tanpa menihilkan gagasan orisinil dan kritis. Setia menjadi platform bacaan publik.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Populer