Connect with us

Bisnis

Harga Cabai di Bandung Meroket, Ini Masalanya

JARRAK.ID

Published

on

BANDUNG-JARRAK.ID- Dalam seminggu ini harga cabai meroket tinggi. Banyak masyarakat yang mengeluh akan hal ini karena cabai merupakan kebutuhan pokok.

Adapun kisaran harga cabai di pasaran berada di angka Rp 40 ribu per kilogram, bahkan hingga Rp70 khusus cabai merah.

Menurut Ni Made Ayu, salah satu pedagang sembako di Pasar Rakyat Desa Adat Tegal, Desa Darmasaba, Kecamatan Abinsemal, Kabupaten Bandung, harga cabai saat ini tidak kunjung turun hingga akhir-akhir minggu ini.

“Untuk cabai merah campur ini, harganya Rp 60 per kilogram. Biasanya Rp30 ribu per kilogram,” jelasnya, Jumat (9/3/2018) kemarin.

Pernyataan serupa juga dikatakan pedagang di Pasar Adat Blahkiuh, Kecamatan Abiansemal, Bandung. Harga cabai di pasar tersebut berkisar Rp70 ribu untuk cabai merah. Sedangkan untuk unutk cabai hijau harganya berkisar Rp 40 ribu per kilogram.

“Harga cabai memang sulit diprediksi. Tiba-tiba naik, tiba-tiba turun. Ini sudah  sekitar seminggu yang harganya tinggi. Mungkin petani cabai sedikit, makanya mahal,” terangnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi, UKM, dan Perdagangan, Kabupaten Bandung, Ketut Karpiana, menyatakan pihaknya akan segera mengecek harga cabai di pasar.

“Terus terang, kalau harga cabai ini memang sulit untuk diprediksi. Satu, karena pengaruh cuaca. Kedua, karena pasokan yang sedikit. Akan tetapi jika dilihat sih tidak sampai langka. Dari pantauan di lapangan, sejauh ini masih lancar, tapi kami akui memang ada kenaikan harga,” ungkapnya.

Menurut pernyataan Karpiana, petani di daerah bandung sendiri tidak memenuhi kebutuhan pasokan ke pasar-pasar. Oleh karena itu pasar di daerah tersebut masih bergantung dengan pasokan dari kabupaten lain.

“Tidak hanya cabai, bawang pun, itu masih dari Kabupaten Bangli. Terung terang, pasar di mana pun meminta pasokan barang-barang dari daerah lain, misalnya dari Jawa,” ungkapnya.

Ia melanjutkan, pada saat seperti ini pihaknya menganggap penting adanya Cold Atmosphere Storage (CAS), gunanya adalah untuk menyimpan hasil pangan dengan harga yang fluktuatif.

“Inilah keinginan Bapak Bupati. Dengan adanya CAS ini, harga di pasar bisa dikendalikan dengan terus menerus. Misalnya jika produk melimpah disimpan. Setelah itu, kalau memang di lapangan kurang, simpanan itu dikeluarkan,” terangnya.

JARRAK.ID adalah portal berita daring yang konsisten dan terukur menyuguhkan informasi akurat. Mengabarkan fakta dengan berimbang tanpa menihilkan gagasan orisinil dan kritis. Setia menjadi platform bacaan publik.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Populer