HAPPY HYPOKSIA COVID BAGAIMANA BISA TERJADI

6 min read

Jateng, Jarrak.id | Akhir akhir ini ramai dibincangkan istilah Happy Hypoksia. Pertama yang memviralkan adalah media yang menayangkan komentar Bupati Banyumas yg kehilangan sahabatnya karena Covid.

Beliau sangat terkejut mendengar temannya meniggal karena covid karena beberapa hari sebelumnya tampak BAHAGIA. Tidak ada perasaan seperti sakit dll. Barangkali dokter yang dilapori keluarga atau bapak Bupati tentang keadaan sobatnya yang sebelumnya tampak bahagia, mendoiagnosa phenomena happy hipoksia, mungkin memberi diagnosa keadaan itu sebagai happy hipoxia.

Ketika ditayangkan televisi berulang ulang maka makin viral. Dampak psikologi dari tayangan itu di sangat vsyarakat sangat variatif. Ada orang yang prihatin tetapi merasa masih beruntung bahwa korban walau meninggal masih ada happy nya. Ada yang ekstrim yaitu Covid tidak bahaya, bahkan bila mematikan pun orang yang mati akan bahagia.

Tentu saja dampak ini membentuk perilaku yang akan muncu pada orang. Ketika fakta menunjukkan bahwa 90 % lebih Covid ini tidak membahayakan orang, maka orang orang yang tidak percaya Covid makin percaya diri dan perilaku disiplim mencegah Covid makin berkurang. Dari sisi komunikasi masa ini sangat merugikan.

Karena walau Cuma 10 % yang menjadi sakit dan yang meniggal Cuma 3 % misalnya, bagi komunitas kebangsaan yang besar seperti Indonesia, itu berarti bisa membunuh 3% x 265 juta =7,5 juta orang Indonesia. Banyak orang yang tidak peduli karena memikir bahwa itu bukan “SAYA”. Bagi orang kesehatan masyarakat dan orang yang peduli sesama, angka itu sunggu mengerikan.

Maka orang yang merasa KEBAL, BERDAYA TAHAN TINGGI, TIDAK TERDAMPAK, harus tetap menjaga sekitar agar tidak menyebar. Mungkin yang brsangkutan memang kebal, tetapi belum tentu anak istri ibu bapaknya mertua, nenek kakeknya mempunyai kekebalan sama. Mereka bisa terdampak juga.

Sehingga pemahaman HAPPY HYPOKSIA harus dipahamkan dan dibawah ini kami sedikit share apa dan bagaimana dan hubungannya dengan Covid.

APA DAN BAGAIMANA.
HAPPYNESS / EFORIA/ KEBAHAGIAAN : suatu keadaan yang menyebabkan perasaan nikmat dan bahagia. Mekanisme ini masih misterius karena ada di otak. Walaupun begitu ada teori happyness yaitu terangsangnya area happiness di otak (hedonic hotspot di hypothalamus otak) sehingga mengeluarkan gelombang dan hormon happiness ke seluruh tubuh. Hormon Hapines disebut endorfin yang dengan cepat diproduksi dan menyebar ke seluruh tubuh sehingga menyebabkan semua sel mengalami kenikmatan.

Hormon tersebut juga cepat di pecah ( masa paruh) sehingga efeknya terbatas waktu. Rangangan itu bisa dimunculkan baik natural maupun dibuat. Secara natural ketika kita melihat pemandagan indah, mendengar, merasakan dengan kulit dan indra lainnya maka akan merangsang produksi hormon endorfin di otak.

Semakin sering hormon ini keluar, maka sel akan lebih baik metabolismenya dan awet muda orang yang mengalaminya. Rangsang natural lain adalah olah raga, musik, silaturahmi, reuni, minum ketika dahaga, air sejuk ketika kepanasan, sexual dll.

Selain natural stimulan, ada juga stimulan yg bisa dirangsangkan seperti obat tertentu atau keadaan tertentu. Obat stimulan dopamine,bahkan beberapa obat depresan, canabioid, gas nitrogen oksida (gas gelak) adalah obat yang sering digunakan orang untuk merangsang kebahagiaan.

Dokter sering memberi obat untuk tujuan kesehatan pasiennya, tetapi banyak juga yang menyalahgunakan untuk kebahagiaan sendiri. Aktifitas Psikologis merupakan stimulan juga. Berdoa, istigfar, joga, bahkan penyiksaan bersfiat pengorbanan yang dilihat orang sakit dan menyedihkan, bagi yang bersangkutan menimbulkan perasaan nikmat.

Puasa, bagi orang tertentu tidak nyaman, tetapi bagi orang Islam dirindukan bulan pausa selalu. Orang Iran memecuti punggunya hingga berdarah, orang Philipina dan Mexico disalip berdarah merasa nimatnya. Happiness adalah paduan antara kejiwaan, spiritual dan body chemical.

HYPOXIA adalah penurunan kadar oksigen dalam darah. Secara objektif bisa diukur kadar oksigen dengan alat oximetri dengan nilai normal 93 hingga 100. Kurang dari itu disebut hipoksia. Bila kurang dari 60 maka seseorang harudsdi dibantu dengan oksigen tambahan.

Kondisi ini sebabkan karena seseorang mengalami masalah dalam pernapasan baik karena sesak napas atau ikatan oksigen darah berkurang. Sesak nafas bsa terjadi secara cepat seperti pada serangan astma, atau lambat sekali seperti pada astma kronis, TBC dan gangguan paru lainnya. Pada hipoksia akut, bisa kita lihat bagaimana penderita akan terengal nafas cepat dan dalam untuk konpensasinya.

Pada hipoksia kronis, kadang tubuh sudah mulai adaptasi sehingga penderita tidak tampak tersengal sengal walau kadar oksigen di darahnya menurun. Keadaan ini serng juga disebut SILENT HYPOXIA. Pada penyakit tertentu seperti anemia kronis, thalesemia, gangguan ikatan oksigend arah, keracunan kronis CO, didaerah tinggi pegunungan (termasuk mungkin pada Covid), orang hypoksia tidak merasakan apa apa, dan berperilaku wajar saja.

Karena pada umunya orang tersengal sengal dan sedih, pada orang ini tidak tamnpak tersengal, maka sering disebut HAPPY HYPOXIA. Istilah Happy disini bukan lalu orangnya tampak girang gembira, dll tetapi karena tidak ada ekspresi tersengal dan susah.

Dalam siklus harian orang bisa mengalami penaikan dan penurunan kadar oksigen yang menentukan siklus hariannya. Pada orang yang waspada, maka kadar oksigen tinggi dan bisa melakukan aktifitas fisik dengan wajar. Pada orang yang capai, kadar oksigen merendah karena penggunaan yang tinggi oleh sel, sehingga orang ini merasa mengantuk. Ini merupakan mekanisme homeotasis tubuh mahluk hidup untuk hidup normal.

Happy Hypoxia. Adalah suatu keadaan perasaan nyaman, gembira dengan keadaan darah kekurangan oksigen. Perasaan itu, bisa disebabkan karena hipoksia atau tidak berhubungan yang terjadi bersamaan. Pada penggunaan obat tertentu, orang bisa mengalami euforia ( happy berlebihan) dan pada saat sama terlihat ada depetresi pernafasan.

Beberapa ahli tidak menyatakan hahwa hipoksia menyebabkan euforia tetapi itu terjadi bersamaan, dari efek obat yang luas. Pada orang orgasm terutama pada wanita, dimana secara fisiologis bisa mengalami status orgasmic (orgasme yang berkepanjangan dan dalam), tidak diketahui apakah euforia, terjadi karena hipoksia atau karena bersamaan. Meskipun begitu ada ahli yang meyakini bahwa euforia bisa dirangsang oleh karena hipoksia.

Hipotesanya didasarkan pada perilaku psikologis orang diketinggian puncak gunung yang euforia. Juga pada kasus sekresi sperma pada orang yang tenggelam atau terjerat. Bahkan teori vasocongesti pada saat orgasme. Meskipun ini sangat sulit dibuktikan, ada yang percaya.

Bahkan ada percobaan membentuk status orgasme pada seseorang wanita dengan obat dan semi mencekik sehigga tanpa disengaja wanita tersebut meniggal dan menimbulkan kasus pembunuhan yang pernah viral di Indonesia juga.

Happy hipoksia pada covid 19
Pada saat seseorang terkena penyakit Covid pada umumya orang tidak peraya dan denial. Perilaku masyarakat umum dan persepsi sakit Covid yang memunculkan diskriminasi, membuat penderita berusaha semaksimal mungkin menutupinya.

Bahkan ketika gejaa makin kuatpun , orang akan berusaha menyakindan diri pasti akan semnuh sendiri. Ini menyebabkan statitstik kematian covid saat ini terjadi pada kasus orang di luar ruang ICU. Bahkan 70 – 90 % orang yang datang ke rumah sakit, sudah pada derajat berat.

Kamatian bisa terjadi karena pada dasarnya manusia Cuma punya waktu 2 menit gagal nafas untuk bisa membunuhnya. Keterlambatan Ini terjadi karena orang berusaha menekan gejala yang dirasakan. Bahkan ketika gejala berat mulai muncul, dia menyembunyikan dengan pura pura tidak sesak dan masih merasa bahagia seperti biasa.

Inilah yang bisa menimbulkan orang terlambat datang ke RS dan meniggal sebelum masuk ICU. Maka ketika teman temannya bersaksi, maka dia mengatakan bahwa yang bersangkutan beberapa jam sebelumnyamasih terlihat Happy.

Dari dasar itulah, maka dokter yang merawat menduga dia mengalami HAPPY HYPOXIA.
Dari tulisan ini dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya pada Covid, rendah kemungkinan terjadi Happy hipoksia. Pada Covid orang mengalami sesak dan tersengal. Diskriminasi sering membuat orang denial pada keadaannya yang membuat justru terlambat diobati.

Sehingga bila kita mengalami gejala covid, yaitu demam, flu, ada riwayat resiko terpapar, seawal mungkin datang ke Puskesmas untuk test dan bila sudah mengalami awal sesak, maka harus ke RS agar ditherapy seoptimal mungkin. Semoga tulisan ini makin membuat kita lebih waspada dan semoga Tuhan melindungi kita semua.

Sumber: DR. Dr. Budi Laksono MHSc
Team ahli gugus tugas Covid Jateng
Dosen, relawan sosial.

Editor: GR/wok