Connect with us

Kolom

Golkar Menuju Partai Reformis

JARRAK.ID

Published

on

Foto : Kolase, Rec.dok.

JARRAK.ID—Golkar menuju partai reformis. Ini menarik, sekaligus tragik. Bagaimana keadaban demokrasi politik terhenti menduplikasi masa lalu. Dengan menyisakan Beringin, partai yang dicap warisan rezim diktator Orba, satu-satunya yang masih memelihara mekanisme demokrasi.

Munas Partai Golkar lebih berefek dramatik dibandingkan munas-munas partai lain. Sejumlah partai yang lahir dari rahim Reformasi kian menjauhi mekanisme demokrasi. Bahkan, ada yang meniadakan sama sekali kontestasi internal. Posisi ketua umum dikeramatkan sebagai jabatan feodal. Regenerasi kepemimpinan didasari garis darah, bukan garis ideologi atau cita-cita partai.

Sederet partai yang lahir masa dan pasca-Reformasi, kini menjelma serupa “perusahaan keluarga”. Dikelola secara sentralistik. Memusat di satu tangan. Kekuasaan dan kepemimpinan tersentral dan tak tergantikan. Ironis. Golkar yang lahir di masa kediktatoran Orba, sekian puluh tahun jadi mesin politik kekuasaan rezim Orba, justru sebaliknya. Mewakili gambaran sebuah partai modern, demokratis, dengan aktor-aktor yang plural.

Golkar sebagai “Beringin Tua” sudah era yang lewat. Hari ini, Golkar bertunas sebagai Beringin baru. Tumbuh untuk menatap hari esoknya.  Ia menarikan daun-daunnya. Daun-daun tua gugur, digantikan daun-daun yang baru. Generasi kepemimpinan berjalan. Jika ditarik sejak “Beringin Tua” yang digantikan “Beringin Muda” dengan akar-akar yang makin menguat,  tak bisa dipungkiri adalah sejarah kekuatan politik paling dominan di separuh abad umur Republik ini.

Banyak yang membayangkan, pileg 1999 jadi kubur Golkar. Ternyata tidak. Di tengah euforia Reformasi dan stigma negatif sebagai partai warisan Orba, Golkar bisa selamat. Akbar Tanjung seolah ditakdirkan untuk memimpin dan menyelamatkan Golkar. Bahkan, bukan saja selamat, Golkar berhasil jadi pemenang kedua setelah PDI Perjuangan. Luar biasa lagi, di Pileg 2004, Golkar tampil sebagai pemuncak.

Ajimat apa yang dipakai Golkar? Di masa Orba, ketika pemilu hanya proyektor semu berlangsungnya demokrasi, Golkar jelas tak perlu berkeringat untuk menang. Ada fasilitas kekuasaan seperti aturan monolitis PNS yang harus ke Golkar. Pileg 1999 jelas tak ada lagi fasilitas itu. Namun, justru Pileg 1999 itu jadi waktu reborn buat Golkar.

Semua kader bergerak. Mapping base area, street campaign, direct campaign, loyalitas kader dikuatkan. Beringin muda meretas jalan sejarahnya sendiri. Membuat penegasan, seperti di tahun 2014, di bawah kepemimpinan ARB, meski sesaat, Golkar berani memilih jalan oposisi.

Banyak yang menilai pilihan Golkar beroposisi di tahun 2014 menyalahi kodrati. Tapi, bisa juga tidak.  Golkar memilih melakukan eksprerimentasi politik yang berani. Menegaskan identitasnya yang baru.  Partai politik yang bisa hidup di dalam, pun di luar kekuasaan.

Tak ada partai politik, terlebih yang lahir pasca-Reformasi, setangguh Beringin reborn ini. Digulung konflik internal yang tajam. Tapi tetap eksis. Di Golkar, konflik dan rekonsiliasi sama-sama niscaya. Tujuan dan cita-cita partai adalah kepentingan absolut. Di Golkar, politik adalah seni negosiasi.  Ini yang membuat Golkar selalu dinamis dan segar.

Partai yang hilang kedinamisan dan kesegaran akan kehilangan kemampuannya bernegosiasi dengan sejarah. Golkar sudah diuji di situ, dan kembali akan diuji. Ketangguhan Golkar bukan pada kepemimpinan tersentral. Tapi pada akar-akarnya yang tertanam kuat, menjalar dan menyebar.

Ke depan, 2024, adalah tantangan baru. Mampukah Golkar dengan slogannya: “suara rakyat, suara Golkar” kembali bernegosiasi dengan sejarah?  Menanamkan akar-akarnya di kedalaman  simpatik generasi (pemilih) baru? (JRK)

EDITOR : Seno Aji

JARRAK.ID adalah portal berita daring yang konsisten dan terukur menyuguhkan informasi akurat. Mengabarkan fakta dengan berimbang tanpa menihilkan gagasan orisinil dan kritis. Setia menjadi platform bacaan publik.

Advertisement

Populer