Connect with us

Daerah

Geger, Pose ‘Dua Jari’ Para Hakim di PN Jakarta Pusat

JARRAK.ID

Published

on

Hakim di PN Jakarta Pusat saat melakukan pose dengan dua jari (Doc. Net)

JAKARTA – JARRAK.ID – Ketua Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat, Yanto membantah bahwa beredarnya foto-foto para hakim yang melakukan ‘pose dua jari’ merupakan simbol politik.

Yanto menegaskan, foto tersebut merupakan kenang-kenangan karena ada salah satu hakim yang akan pindah tugas ke Bengkulu. Maka sebagai kenang-kenangan, mereka melakukan sesi foto bersama.

“Itu pistol, bukan dua jari. Kemudian ada jempol dan genggam juga ada, tapi orang iseng ditambahi, padahal pakai kamera, tidak pakai handphone,” kata Yanto dilansir detikcom, Jalan Bungur Raya, Jakpus, Senin, (12/02/2019).

Menurut Yanto, para hakim di foto tersebut sedang foto bergaya pistol, bukan salam dua jari sehingga bukan bagian dari salam dua jari politik.

“Itu pistol, bukan dua jari. Kemudian ada jempol dan genggam juga,” ujar Yanto.

Salah satu hakim yang ikut foto, Anwar membenarkan foto yang beredar tersebut. Namun ia membantah foto itu terkait pilpres.

“Pak Ansori dapat SK (hakim PN Jakpus pindah tugas ke tempat baru). Mereka mau minta foto buat lah kenang-kenangan. Pas pagi jelang sidang ketemu di atas,” ungkap hakim Anwar terpisah.

Perlu diketahui, Dirjen Badilum MA sudah membuat surat edaran bernama ‘Larangan Hakim Berpolitik’, yang ditandatangani Dirjen Badilum Herri Swantoro pada 7 Februari 2019. Dirjen meminta para hakim di lingkungan pengadilan umum mematuhi dan melaksanakan surat edaran ini.

“Hakim harus imparsial dan independen. Hakim dilarang mengunggah, menanggapi (seperti like, berkomentar, dan sejenisnya) atau menyebarkan gambar/foto bakal calon, visi-misi, mengeluarkan pendapat yang menunjukkan keberpihakan salah satu calon,” demikian bunyi surat edaran Dirjen Badilum.

Baca Juga:  Sidak Lapas Sukamiskin, JARRAK: Oknum Ombudsman Cari Popularitas

JARRAK.ID adalah portal berita daring yang konsisten dan terukur menyuguhkan informasi akurat. Mengabarkan fakta dengan berimbang tanpa menihilkan gagasan orisinil dan kritis. Setia menjadi platform bacaan publik.

Advertisement

Berita Populer