Connect with us

Daerah

Gandeng Perguruan Tinggi, Dirjen PAS Buka Peluang Narapidana Lanjutkan Pendidikan

JARRAK.ID

Published

on

Direktur Jenderal Permasyarakatan (Dirjen PAS) Kemenkumham, Sri Puguh Utama (Doc. Net)

JAKARTA – JARRAK.ID – Pemerintah melalui Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) diketahui membangun kerja sama dengan sejumlah perguruan tinggi, salah satunya Universitas Jendral Soedirman (Unsoed), guna mendidik para narapidana.

Kerja sama ini sebagai bagian dari proses pembinaan agar narapidana lebih baik dan maju.

Kendati demikian, narapidana yang mendapat kesempatan untuk mengenyam pendidikan ke perguruan tinggi sudah melalui serangkaian penilaian, sehingga mereka layak mendapatkan kesempatan tersebut.

Untuk saat ini tercatat ada 33 narapidana yang mengeyam pendidikan di Fakultas Hukum (FH).

“Ada 33 napi yang sudah masuk semester dua FH (fakultas hukum) dan ada yang IP-nya 4,” kata Direktur Jenderal Permasyarakatan (Dirjen PAS) Kemenkumham, Sri Puguh Utami di Jakarta, Senin, (22/04/2019).

Menurut Utama, nanti mereka yang sudah selesai menempuh pendidikan tinggi akan ditarik kembali oleh Kemenkumham untuk membantu lapas dalam rangka menyelesaikan berbagai masalah hukum.

“Membantu menjadi penasehat hukum teman-temannya yang tidak punya kemampuan untuk itu,” terang dia.

Kerja Sama dengan Perusahaan

Utami menjelaskan, pihaknya juga membangun kerja sama dengan sejumlah perusahaan. Tujuannya untuk menumbuhkan bakat dan ketrampilan para narapidana. Sehingga mereka akan produktif usai menjalani pembinaan di lapas.

“Seperti tadi kita menandatangani kerja sama dengan beberapa PT, ini sudah praktik di Nusakambangan,” ungkap dia.

Selain itu, Utama menegaskan pihaknya juga akan mempercepat proses revitalisasi lapas yang akan mulai dilakukan tahun ini.

Revitalisasi ini nantinya akan membagi setiap lapas menjadi empat klasifikasi tempat pembinaan berdasarkan karakteristik narapidana. Empat klasifikasi tersebut adalah lapas super maximum security, maximum security, medium security dan lapas minimum security.

Utami mengaku, salah satu tujuan penting dari revitalisasi lapas agar narapidana dapat menghasilkan barang atau jasa yang dapat dijadikan sumber penghasilan usai mereka keluar dari lapas.

Hal ini disinyalir efektif dalam meningkatkan produktifitas narapidana di masa yang akan datang.

“Selama ini kita hanya fokus pada tataran bagaimana cara menampungnya, bukan pada bagaimana cara menyalurkannya,” kata dia.

Lapas Percontohan

Dirjen PAS juga sudah menunjuk 138 lapas di seluruh Indonesia yang akan dijadikan percontohan dalam revitalisasi.

Salah satu yang menjadi percontohan adalah Lapas Nusakambangan, Jawa Tengah.

Selanjutnya juga akan dipetakan lapas mana dengan kategori maximum security, medium security dan minimun security. Sehingga berdasarkan kategori tersebut, akan disesuaikan kegiatan revitalisasi yang akan dilakukan.

“(138 lapas) mereka yang nanti akan melaksanakan revitalisasi penyelenggaran pemasyarakatan di wilayah jadi sudah kita petakan yang maximum security lapas mana, yang medium lapas mana, yang minimum lapas mana,” jelasnya.

Menurut Utami, dipilihnya 138 lapas percontohan tentu didasarkan kepada beberapa mekanisme dan kriteria yang komprehensif.

“Lapas ideal, pegawai ideal, sarana ideal. Karena anggarannya belum ada maka kita pilih, kita akan fokuskan,” ujarnya.

JARRAK.ID adalah portal berita daring yang konsisten dan terukur menyuguhkan informasi akurat. Mengabarkan fakta dengan berimbang tanpa menihilkan gagasan orisinil dan kritis. Setia menjadi platform bacaan publik.

Advertisement

Populer