Connect with us

Politik

FOKUS: Jelang Pemilu 2019, Ketum HAM: Indonesia Berpotensi Terjebak dalam Politik Identitas

JARRAK.ID

Published

on

Ketua Umum Himpunan Aktivis Milenial (HAM), Asep Irama (Doc. JARRAK)

JAKARTA – JARRAK.ID – Pesta demokrasi di Indonesia pada tahun 2019 mendatang, dikhawatirkan masih menjadi medan pertarungan politik identitas. Situasi ini sering dimanfaatkan para politisi untuk mencari suara.

“Politik identitas hampir selalu mewarnai setiap proses pemilu di banyak tempat. Ini terjadi karena identitas adalah salah satu modal penting bagi kandidat/partai untuk memobilisasi dukungan,” kata Ketua Umum Himpunan Aktivis Milenial (HAM), Asep Irama saat berbincang dengan Jarrak.id, Sabtu, (08/09/2018).

Kendati demikian, isu politik identitas bisa saja direproduksi berbeda-beda. Tetapi lazimnya masih bermuara pada persoalan agama, ras, etnis, wilayah dan gender. Tujuan besarnya tentu saja kata Asep, untuk membangun perspesi pemilih sesuai dengan selera kandidat atau partai politik tertentu.

“Identitas hampir dipastikan akan menjadi elemen penting bagi kandidat di 2019 untuk mobilisasi dukungan maupun merekayasa persepsi pemilih. Memang bentuk, besaran, dan skalanya akan berbeda dari datu kandidat ke kandidat lain,” imbuh alumnus Fakultas Hukum Universitas Bung Karno (UBK) Jakarta itu.

Isu identitas yang dimainkan elite politik berpotensi memecah belah masyarakat. Karenanya Asep meminta, semua elemen punya kesadaran tinggi untuk mencegah polarisasi politik identitas.

“Identitas ini memang berpotensi membawa keterbelahan politik dalam masyarakat. Persoalan lain bisa menjadi besar ketika dibingkai dengan isu identitas oleh para elite,” kata Asep.

Oleh karena itu, sudah saatnya menurut Asep narasi tentang identitas bersama yang harus dimunculkan.

“Identitas tidak boleh dikotak-kotakkan. Tetapi narasi tentang politik identitas sejatinya harus memuat pesan kebhinnekaan, sehingga politik identitas menyatukan, bukan menjadi instrumen yang mengacaukan kehidupan berbangsa dan bernegara,” tegas Asep.

Pemicu Munculnya Politik Identitas

Dunia maya dan politik punya hubungan erat. Asep menyebut salah satu penyebab menguatnya isu politik identitas berasal dari dunia maya.

Baca Juga:  PT Garam Raih Penghargaan "Winner Choice 2018", Budi Sasongko: Terus Berkarya untuk Negeri

“Persoalan para buzzer ini, susah dicegah karena era kebebasan ini-itu. Tapi kan saya lihat masyarakat juga banyak baca media resmi, (media resmi) itu yang harus meluruskan hal-hal yang nggak baik itu. Jangan sebaliknya (justru) memanas-manasi. Memang dunia ini sudah memasuki era posttruth,” ujar Asep.

Selain buzzer, tentunya yang menghembuskan isu identitas adalah elite politik. Menurut Asep, isu identitas adalah cara tak elegan politikus untuk menarik suara.

“Politik identitas sangat menonjol dalam pemilihan Gubernur DKI Jakarta tahun 2017 silam. Ahok yang merupakan umat Kristen keturunan China kalah dalam pemilu, dan kejatuhannya menunjukkan betapa politik identitas menjadi senjata politik yang kuat, terutama jika digunakan untuk melawan kelompok minoritas. Ini berbahaya bagi masa depan bangsa,” kata Asep.

Mencegah Perpecahan

Politik identitas bisa memecah belah masyarakat. Asep menilai keterbelahan masyarakat sejak Pilpres 2014 masih terasa sampai saat ini.

“Ada dua kemungkinan yang muncul akibat politik identitas; masyarakat jadi dinamis atau masyarakat akan apatis. Ketika masyarakat dinamis, kemudian membabi buta kemudian jadi terbelah. Tapi kemudian sebaliknya, kalau jadi apatis juga nggak bagus, partisipasi politik rendah juga,” papar Asep.

Munculnya isu identitas bukan berarti keterbelahan masyarakat tak bisa dicegah. Salah satu caranya, kata Asep, adalah dengan pembuatan regulasi tentang kampanye yang tidak provokatif yang memanfaatkan sentimen identitas.

“Kedua, mendorong literasi politik masyarakat tentang pemilu sebagai mekanisme yang damai untuk melahirkan kepemimpinan baru sehingga konflik dengan kekerasan harus dihindari,” papar Asep.

Literasi politik ini bisa dimunculkan oleh media massa, organisasi masyarakat sipil, partai, lembaga pendidikan, dan pemerintah. Kemudian yang terakhir adalah dengan mendorong partai politik dan kandidat di pilpres untuk mampu menghadirkan visi, program, dan kapasitas yang jelas.

Baca Juga:  BNPB: Perubahan Gunung Anak Krakatau Begitu Cepat

“(Sehingga) memungkinkan pemilih memberi petimbangan pertimbangan yang lebih rasional untuk memilih,” tutur Asep.

“Kita semua menginginkan Pemilu 2019 betul-betul menjadi sarana efektif dalam menentukan pemimpin bagi masa depan Indonesia. Oleh karena itu, adalah tanggung jawab semua untuk melawan segala bentuk potensi perpecahan akibat dari politik identitas yang terkotak-kotakkan,” tandas Asep.

JARRAK.ID adalah portal berita daring yang konsisten dan terukur menyuguhkan informasi akurat. Mengabarkan fakta dengan berimbang tanpa menihilkan gagasan orisinil dan kritis. Setia menjadi platform bacaan publik.

Berita Populer