Connect with us

Politik

Fenomena Polling Twitter Soal Pilpres: Dari Penggunaan Bot Hingga Perang Psikologis

JARRAK.ID

Published

on

Ilustrasi (Doc. Net)

JAKARTA – JARRAK.ID – Usai pasangan Capres-Cawapres resmi mendaftarkan diri ke Komisi Pemilihan Umum (KPU), jagat dunia maya diramaikan oleh sejumlah polling untuk mengetahui siapa pasangan Capres-Cawapres yang lebih unggul.

Tak hanya politisi, sejumlah publik figur pun turut tertarik membuat polling di Twitter soal Pilpres untuk mengetahui pilihan netizen.

Sayangnya, sejumlah pengamat menilai jika polling semacam itu kurang dapat dipertanggungjawabkan lantaran rawan disusupi oleh bot. Meski begitu, polling tersebut dianggap efektif untuk melakukan perang psikologis.

“Polling di medsos seperti di Twitter dan FB ini tidak ilmiah dan tak bisa dipertanggungjawabkan. Namun ada gunanya, yaitu untuk psy-war,” jelas pengamat media sosial, Ismail Fahmi, Rabu, (15/08/2018).

Selain itu, perang polling media sosial punya efek persuasif. Dengan banyaknya polling yang dimenangkan oleh salah satu pasangan capres-cawapres, hal itu dapat mempengaruhi pilihan seseorang.

“Khususnya yg dibuat oleh figur terkenal, kalau hasilnya di-screenshot dan di-share akan bisa mempengaruhi sebagian publik. Meyakinkan mereka bahwa banyak orang telah memilih kubu X atau Y,” jelasnya.

Namun demikian, jika sebuah polling di media sosial dilakukan dengan cara yang tidak benar termasuk menggunakan bot, maka hal itu akan berdampak pada kredibilitas dan sikap tidak percaya publik kepada pihak-pihak yang melakukan survei.

“Efeknya, hanya menghabiskan duwit yang pesan robot aja,” tukasnya.

Fenomena perang menang polling di Twitter ini, sempat mengundang Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil ikut berkomentar. Menurutnya, berdasarkan pengalamannya di Pilkada Jabar kemarin perang pemenangan polling ini kurang ilmiah.

Baca Juga:  Polri: Tak Ada Barter SP3 Rizieq Shihab dengan Kasus Puisi Sukmawati

JARRAK.ID adalah portal berita daring yang konsisten dan terukur menyuguhkan informasi akurat. Mengabarkan fakta dengan berimbang tanpa menihilkan gagasan orisinil dan kritis. Setia menjadi platform bacaan publik.

Berita Populer