Dirjen Migas yang Baru Terpilih Berjanji Rampungkan Kontrak Bagi Hasil

2 min read

Direktur Jenderal Minyak dan Gas (Migas) Djoko Siswanto/Pic. Net

JAKARTA – JARRAK.ID – Akhirnya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan Djoko Siswanto sebagai Direktur Jenderal Minyak dan Gas (Migas).

Djoko Siswanto, direktur yang baru terpilih tersebut memiliki rencana jangka pendek dan jangka panjang. Salah satu program jangka pendeknya adalah ingin mempercepat proses penandatanganan kontrak bagi hasil (Production Sharing Contract/ PSC) delapan blok migas yang habis masa kontraknya (terminasi) dan diserahkan kepada PT Pertamina (Persero).

“Percepat saja, kalau bisa minggu depan, minggu depan (penandatanganan PSC blok terminasi). Targetnya (penandatanganan PSC), minggu depan,” ujar Djoko usai acara pelantikan Pejabat Pimpinan dan Pengambilan Sumpah Jabatan di lingkungan Kementerian ESDM, Rabu (28/3/2018).

Perlu diketahui, pemerintah telah memberikan prioritas pengelolaan terhadap Pertamina mengenai delapan blok migas terminasi yang masa kontraknya akan berakhir pada 2017 dan 2018.

Adapun Kedelapan blok migas terminasi tersebut antara lain, blok East Kalimantan yang sebelumnya dikelola oleh Chevron Indonesia Company, Attaka (Inpex Corporation Ltd), Sanga-sanga (VICO).

Kemudian, South East Sumatra (CNOOC SES Ltd), Ogan Komering (Joint Operating Body Pertamina-Jadestone Energy), North Sumatera Offshore (Pertamina), Tuban (Joint Operating Body Pertamina Petrochina East Java), dan Tengah (Pertamina).

Selain mempercepat penandatangan PSC blok terminasi, Djoko juga ingin menyelesaikan program-program kementerian yang tercantum dalam Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA). Karena hal tersebut harus benar-benat dituntaskan.

“Pak Menteri (Menteri ESDM Ignasius Jonan) sudah bilang, aturan-aturan yang menghambat investasi kami kaji lagi kalau bisa kami hapus. Kemudian, kami buat segala jenis perizinan dan sebagainya melalui online dan tepat waktu,” pungkas Djoko.

Selain itu, Djoko akan melanjutkan upaya pendahulunya untuk mempermudah investasi di bidang migas baik di sektor hulu maupun hilir.

Dengan begitu, Djoko juga mengungkapkan kontraktor lama dari masing-masing blok terminasi telah memberikan sinyal akan bermitra dengan Pertamina untuk mengelola blok tersebut.

Hak partisipasi (participating interest/PI) pengelolaan blok nantinya diatur oleh pemerintah. Jika kontraktor lama ingin mendapatkan PI lebih besar, maka kontraktor lama diizinkan untuk melakukan kesepakatan antar perusahaan (business to business) dengan Pertamina.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *