Connect with us

Kolom

Catatan Refleksi: Menabur Cinta untuk Semua

I PUTU SUDIARTANA

Published

on

Ilustrasi (Net)

Sebagai refleksi, catatan ini sekadar narasi tentang perenungan. Tentu ini bukan samasekali soal maklumat. Catatan ini hanya bagian dari sifat insani makhuk Tuhan: berpikir, membayangkan, merenung.

Bukankah, dalam satu ajaran keyakinan, merenung tentang hal baik sema dengan ibadah? Berpikir, bahkan dalam bentuk paling abstrak sekalipun, adalah laku yang mulia. Bayangkan ketika akal pada manusia lalu tidak ada.

Manusia, siapapun dia, dilahirkan dan dibentuk dengan cinta. Karena itu, dua hal yang menjadi garis kesempurnaan manusia dibanding dengan hewan, yaitu akal dan cinta. Dua hal ini saling terjalin berimbang, komplementer. Pada manusia, akal menjadi penghubung antara yang fana dan Esa, antara yang profan dan immanen, antara tanda dan kuasa. Karena akal, nyaris kehidupan manusia tampak lebih praktis, teratur, dan nyaman. Betapa banyak hal dicipta untuk memudahkan aktifitas kehidupan manusia melalui akal.

Sementara cinta, bagi Saya, adalah keterpesonaan. Pada saat tertentu, cinta adalah selera, inspirasi, hasrat, dan sejumlah amsal keindahan. Cinta seolah menjadi sihir yang memiliki daya magis. Karena cinta, yang jauh menjadi dekat, yang sukar menjadi mudah. Bagi Mahatma Gandhi, cinta adalah kulit terdalam dari hidup manusia.

Dalam mitologi Yunani, cinta dikisahkan melalui figur Dewa Asmara (Cupid) yang dengannya bisa menarik laki-laki dan perempuan untuk menemukan keindahan. Tetapi, bagaimana jika seorang manusia penuh dentuman cinta tapi miskin akal? Pertanyaan trivial ini pernah disinggung oleh pemikir sosial bernama Erich Fromm. Baginya, cinta dasarnya adalah seni. Karenanya ia butuh laku yang dibentuk oleh akal.

Begitulah cinta dan akal. Keduanya bisa juga bisa membentuk karakter seseorang: menjadi orang baik meski sakit, atau memilih sebaliknya. Ibnu Arabi, sufi Muslim, memiliki persepsi yang jitu soal cinta. Bagi Arabi, cinta menjadi ihwal yang melandasi semua segi kehidupan manusia. Dalam sebuah untaian yang diterjemahkan Prof. R.A Nicholson, Ibnu Arabi menulis: “Hatiku bisa menjelma berbagai bentuk: sebuah biara bagi pendeta, dupa bagi berhala, sebuah padang rumput bagi rusa-rusa. Cinta adalah agama yang kupegang. Kemanapun”.

Kebaikan yang Tiada Batas

Baca Juga:  Indonesia Darurat Radikalisme, Apa Solusinya?

Ihwal kebaikan ini sama dengan sifat sabar: tidak ada batas. Kebaikan yang berbatas, misalnya hanya untuk dihargai orang lain, dipuji, dianggap bisa, dan sebagainya, dan sebagainya, tidak akan berarti, sekarang bahkan nanti. Karena tak berbatas, kebaikan diri manusia kadang mengharuskan sikap pengorbanan. Untuk mencium semerbak mawar, engkau harus bersusah karena tusuk duri tangkainya. Pernahkah Anda, tanpa dorongan apapun, rela mengorbankan diri, karir, jabatan, demi orang lain?

Kebaikan samasekali tak berharap imbalan dan penghargaan. Bila Anda berbuat baik untuk dipuji, kebaikan Anda tanpak sia-sia. Dalam idiom Inggris ditulis, be good to people. Even the shitty ones. Let the assholes be assholes. You’ll sleep better. Jangan berhenti menjadi orang baik, bahkan saat apa yang anda korbankan disebut mereka sebagai pengkhianatan. Orang baik memang tak ubahnya lilin, ia sedia dan rela menerangi gulita, bahkan dengan mengorbankan tubuhnya.

Ungkapan Inggris menulis,  No act og kindness, no matter how small, is ever wested. Jangan berhenti menjadi orang baik, menjadi lilin saat gelap. Karena sejatinya, tidak akan ada prilaku baik, bahkan sekecil apapun, yang pernah disia-siakan. Bukankah semua ajaran sakral nenek moyang pada akhirnya hanya untuk mnejadi orang baik, yakni pribadi yang cakap menggunakan akal, tetapi juga berhembus melalui cinta.

Layaknya pohon, semakin tinggi dia bertumbuh, semakin kencang angin menerjang. Orang baik memang akan menerima banyak ujian. Orang baik akan melakukan apapun demi sesama, meski hanya pada diri dan Tuhannya ia berserah dan pasrah. Jangan berhenti jadi orang biak yang cakap akal tapi penuh hembusan kasih dan cinta.

Berita Populer