Connect with us

Daerah

Bupati Boyolali Maki Prabowo, Ini Kata Polisi

JARRAK.ID

Published

on

Karo Penmas Divisi Humas Mabes Polri, Brigjen Dedi Prasetyo (Doc. Net)

JAKARTA – JARRAK.ID – Polisi menunggu hasil penyelidikan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) soal dugaan Bupati Boyolali, Seno Samodro yang dianggap menghina dan memaki Prabowo Subianto.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigadir Jenderal Dedi Prasetyo mengatakan, pihaknya belum bisa menindaklanjuti laporan tersebut sebelum Bawaslu menentukan apakah kasus itu masuk ranah pelanggaran pemilu atau tidak.

“Kalau sudah menyangkut pemilu itu Bawaslu dulu, apakah ujaran beliau masuk ranah pelanggaran pemilu,” kata Dedi di Markas Besar (Mabes) Polri, Jakarta Selatan pada Kamis, (08/11/2018) dilansir CNNIndonesia.com.

Dia menerangkan, Bawaslu selalu menjadi instansi terdepan dalam melakukan penyelidikan terhadap kasus yang menyangkut masalah pemilu, baik menyangkut calon presiden, calon wakil presiden, cawapres, hingga juru kampanye.

Jenderal bintang satu itu pun menyatakan, pihak kepolisian akan menindaklanjuti laporan tersebut bila nantinya Bawaslu menyatakan bahwa kasus tersebut tidak masuk dalam ranah pidana pemilu.

“Kalau pidana umum polisi bisa langsung menindaklanjuti,” kata Dedi.

Sebelumnya, Bareskrim telah melimpahkan laporan terkait kasus dugaan tindak pidana terhadap ketertiban umum yang diduga dilakukan oleh Seno ke Polda Jawa Tengah.

Dugaan tindak pidana itu sebelumnya dilaporkan oleh salah seorang yang mengaku berasal dari Advokat Pendukung Prabowo, Ahmad Iskandar, karena menilai Seno telah memaki calon presiden nomor urut 02 tersebut saat ikut dalam unjuk rasa soal tampang Boyolali, Minggu (4/11).

“Saya dengar ada yang melapor ke Mabes Polri, tapi sudah dilimpahkan ke Polda Jateng,” kata Kepala Divisi Hubungan Masyarakat (Kadiv Humas) Polri Inspektur Jenderal Setyo Wasisto di Mabes Polri, Jakarta Selatan pada Selasa, (06/11/2018).

Bawaslu menyatakan akan mengkaji laporan dugaan pelanggaran pemilu yang dilakukan oleh Seno.

Baca Juga:  Jawab Fadli Zon, Ini Penjelasan Polisi Dibalik Cepatnya Pengusutan Kasus Hoaks Ratna Sarumpaet

Anggota Bawaslu, Rahmat Bagja menjelaskan bahwa kalimat yang terkandung unsur kampanye bisa terwujud dalam berbagai narasi, baik berupa ajakan dengan menyebut pasangan yang diusung pasangan atau menuding pasangan lainnya.

Bagja mencontohkan pada kalimat ganti presiden atau dua periode. Jika diucapkan, itu termasuk narasi kampanye. “Ya sama kan kaya (istilah) dua periode, itu kan jelas siapa orangnya (yang dimaksud), ganti presiden (juga), itu kampanye,” kata dia di kantronya, Thamrin, Jakarta Pusat, Senin, (05/11/2018).

JARRAK.ID adalah portal berita daring yang konsisten dan terukur menyuguhkan informasi akurat. Mengabarkan fakta dengan berimbang tanpa menihilkan gagasan orisinil dan kritis. Setia menjadi platform bacaan publik.

Berita Populer