Connect with us

Other

Bukan Waktunya Lagi Beragama Secara Simbolis

Published

on

Puisi ‘Ibu Indonesia’ Sukmawati Soekarnoputri yang di dalamnya menyinggung tentang azan dan cadar dipersoalkan.

Mendekati tahun 2019 yang katanya tahun politik, makin ramai isu tentang SARA. Seakan menjadi isu yang tidak pernah usang, Indonesia di perjalanan ritual demokrasinya serasa kering tanpa SARA. Saya sendiri sebagai manusia imut dan lucu yang lahir di tahun gejolak reformasi, tidak sepakat jika pesta demokrasi terbesar di negara kita selalu diganggu dengan hal-hal begituan.

Jika persoalan isu SARA menjelang pemilu itu tidak muncul, ibarat ada pertunjukan orgen tunggal, biduan yang ditunggu gak dateng-dateng. Ya gak? Para penikmat orgen tunggal pasti sepakat dengan saya,: gak ada biduan mah mending orgen tunggalnya ditunda aja.

Kadang saya mikir, sebenarnya negara kita ini negara yang cinta damai apa cinta keributan, sih? Masalahnya, jika jelang pemilu pasti ribut melulu. Mbok yo selow toh, gak capek apa ya ribut terus. Jika memang kita cinta damai, gak usah pasang penampilan yang malah senggol dikit bacok, atau bacot dikit tak tutus ndase.

Nah, soal puisi bu Sukmawati Soekarnoputri yang katanya menistakan agama, mbok ya dicerna dulu makna puisinya. Puisi itu bukan soal keindahan bahasa saja. Puisi itu layaknya perjalanan menemukan jodoh, yang seringkali menyimpan misteri di dalamnya.

Gak usah bertele-tele mari kita bahas soal puisi karya Bu Sukmawati Soekarnoputri yang kontroversi ini.

Pertama, kita perlu menerima keberatan yang diajukan pengurus Persaudaraan Alumni 212, Kapitra Ampera. Ya wajar saja toh jika mereka keberatan. Suudzon saya, mereka menganggap agama hal yang semuanya formal.

Lha, puisi itu kan gak formal, anak TK yang belum ngerti arti cinta boleh-boleh aja jika mau bikin puisi tentang cinta.  Jadi ya susah jika formal  ketemu gak formal, gak bakalan  pernah cocok sampe kucing bertanduk atau lebaran onta sekalipun.

Kedua, kita perlu menanyakan masalah ini kepada om Martin Heidegger. Sebagai filsuf yang bergelut di persoalan tekhnologi, om Heidegger juga memiliki pandangan soal seni. Nah, bagi netizen yang nyiyir soal puisinya Bu  Sukmawati, kudu ngerti pandangan Heidegger terkait seni.

Saya sarankan kepada netizen yang kebanyakan benar, monggo eksplorasi dulu pemikiran yang lebih mendalam. Seni itu, yang termasuk di dalamnya juga puisi, ibarat dua sisi koin. Puisi mengandung tegangan antara menyembunyikan dan menyingkap kebenaran.

Jika mau tahu kebenaran yang asli, ya lihat dari dua sisi dong. Tapi hanya melihat dari satu sisi, itu namanya egois, maunya benar sendiri. Kita kan gak boleh memandang sebelah mata toh, apalagi cuma dari satu sisi.

Ketiga, beragama itu bukan soal eksistensi secara simbolis, tetapi bagaimana caranya kita menemukan esensi elementer serta substansi material kehidupan yang terdapat di dalamnya.

Walah kok jadi ilmiah dan formal kayak gini ya. Bahaya ini bahaya, karena tak selamanya yang formal itu indah.

Jika negara kita negara sekuler, bukan  negara khilafah, seharusnya Bu Sukmawati bener  dong. Loh, kamu ini antek-antek komunis ya? Atheis lagi, hayo ngaku. Iya tenang saja, nanti saya pasti ngaku. Tapi jika udah selesai pemilu aja ya, jangan sekarang.

Bu Sukmawati secara pribadi sudah benar ikut memperjuangkan cita-cita kemerdekaan. Lantaran sebagai budayawati, Bu Sukmawati tidak mencampuri urusan agama dengan politik, begitu pun sebaliknya.

Ya iyalah bro, wong budayawati mosok disuruh politik. Lho, sek toh, budayawati jika berpolitik itu bahaya lho. Apologi yang keluar gak bakalan berkualitas, rendah seperti yang sering muncul jika kita denger ada caleg mau nyalon.

Jika kita mengakui negara Indonesia sebagai negara yang masyarakatnya beragam dan ber-agama tentunya, pasti kita gak bakal salfok sama puisinya Bu Sukmawati.

Soal syariat Islam, yang sebenarnya juga sudah ada di bumi Ibu Pertiwi ini. Bu Sukmawati hanya mempertegas hal itu. Ingat lho ya, “hanya mempertegas”. Jika bahasa di puisi seperti membandingkan ya itu wajar, coba deh baca puisinya Goenawan Mohamad, saya yakin alumni 212 bakal butuh kamus puisi untuk ngartiinnya, itu pun jika kamus puisi ada lho ya.

Soal cadar yang kemaren rame, Bu Sukmawati gak bermaksud merendahkan perempuan yang bercadar, kok. Yang ingin disampaikan Bu Sukmawati itu budaya Indonesia. Konde kan masuk dalam budaya, jadi pas-pas saja jika Bu Sukmawati sebagai budayawati ikut mempromosikan budaya Indonesia. Toh, siapa tahu tukang konde bakal bertambah.

Soal adzan ini sedikit membingungkan memang. jika soal hal yang  substansial, saya rasa pernyataan soal adzan ini gak mengarah ke sana. Bu Sukmawati lagi-lagi cuma ingin menjelaskan kepada kita, jika kidung yang udah ada dari dulu yang lama banget lagi-lagi merupakan warisan budaya.

Coba deh jika kita mau periksa, fungsi kidung dari dulu sampe sekarang itu apa? Setiap waktu, tempat dan kondisi masyarakatnya yang berbeda, kidung berubah fungsi. Yang dimaksud Bu Sukmawati kan nyanyian kidung yang indah, soalnya jika gak indah kita pasti sepakat untuk gak menganggap itu sebagai kidung. Ya gak?

Perlu dicatat, ingat, Tuhan itu tidak punya negara. Hal yang tidak kalah penting, Tuhan tidak punya agama, tapi setiap agama punya Tuhan.

Oleh Rio Anggi Fernando (Mahasiswa Dakwah dan Komunikasi UIN Jogja)

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Populer