Connect with us

Elektoral

Bocorkan Pertanyaan Debat Pilpres, Akbar Tandjung Kritik KPU

JARRAK.ID

Published

on

Politikus senior Partai Golkar, Akbar Tandjung (Doc. Net)

JAKARTA – JARRAK.ID – Politikus senior Partai Golkar, Akbar Tandjung ikut menyesalkan keputusan KPU yang memberikan kisi-kisi pertanyaan debat Pilpres kepada masing-masing pasangan calon.

Menurut Akbar, para kandidat semestinya dibiarkan bebas berdebat di forum debat, tidak perlu diarahkan.

“Iya, alasannya apa, ya? Kalau mau debat, ya bebaskan sajalah mereka berdebat satu sama lain, masa debatnya itu diarahkan,” ujar Akbar Tandjung, Selasa, (08/01/2019).

Akbar kemudian mencontohkan saat gelaran Pilpres 2014, dimana para kandidat tidak mendapatkan bocoran pertanyaan debat.

“Di tahun di pemilu periode lalu (Pilpres 2014), kampanye periode lalu kok sepertinya nggak ada ya, kok sekarang ada,” katanya.

Akbar mengatakan, yang terpenting bagi KPU menyiapkan tema debat, bukan pertanyaan debat.

“Yang penting tema-temanya, yang penting tema debat bertema soal hukum itu, terus hak asasi manusia, dan saya pikir itu baik itu isu-isu yang menjadi perhatian kita juga. Isu ekonomi, politik, isu-isu luar negeri itu kan semua isu yang menjadi perhatian masyarakat, publik,” tutur Akbar.

Menurut dia, debat merupakan ajang bagi capres-cawapres unjuk gigi. Dari debat itulah, menurutnya, akan terukur sejauh mana kemampuan kedua paslon memahami isu.

“Dan ini akan menjadi faktor penilaian bagi masyarakat, faktor penilaian masyarakat, itu bisa menjadi faktor penentu bagi masyarakat untuk menentukan pilihannya dari dua pasangan calon yang ada itu kan. Dan itu unsur pendidikan politiknya sangat penting,” kata dia.

“Jadi penting untuk memperkuat sistem demokrasi kita dan kualitas demokrasi kita juga semakin meningkat,” sambung Akbar.

Baca Juga:  Ini Alasan Ma'ruf Amin Lebih Banyak Diam di Debat Pilpres

JARRAK.ID adalah portal berita daring yang konsisten dan terukur menyuguhkan informasi akurat. Mengabarkan fakta dengan berimbang tanpa menihilkan gagasan orisinil dan kritis. Setia menjadi platform bacaan publik.

Berita Populer