Connect with us

Daerah

Blak-blakan, Rohadi Bongkar Habis Nama Hakim yang Nikmati Uang Suap Saipul Jamil

JARRAK.ID

Published

on

Mantan panitera pengganti PN Jakarta Utara, Rohadi (Doc. JARRAK)

JAKARTA – JARRAK.ID – Hampir dua tahun sudah mantan Panitera Pengadilan Negeri Jakarta Utara, Rohadi, menjalani hukumannya, dari vonis 7 tahun yang dijatuhkan kepadanya terkait kasus penerimaan suap dalam kasus pelecehan seksual yang melibatkan penyanyi dangdut Saipul Jamil.

Namun meski kehidupannya terkukung di balik jeruji besi, Rohadi rupanya tak pernah patah arang dalam mencari keadilan. Ayah dari 3 putra ini, boleh dibilang masih keukeuh berjuang untuk mengungkap fakta lain, terkait siapa-siapa saja yang semestinya juga diseret ke pengadilan dalam kasus hukum yang sempat menghebohkan jagat hiburan tanah air tersebut.

Dalam pernyataan yang disampaikannya lewat siaran persnya baru-baru ini, Rohadi berharap segala fakta hukum lain yang selama ini dianggapnya terabaikan, sudah seharusnya dibuka dan ditelaah kembali oleh penyidik KPK. Salah satunya soal percakapan terkait aliran dana yang diterimanya.

“Penyidik harus membuka HP lewat provider HP yang bersangkutan yang berisi percakapan dengan Hakim Dasma menyangkut jumlah uang untuk Ifa Sudewi dan vonis yang akan dijatuhkan kepada terdakwa Saipul Jamil, dan tentang anak Hakim Dasma, Noviyanti Dasma, agar diajak ke Surabaya untuk sekaligus menyerahkan uang dari Bertha Natalia ke Dasma. Uang itu rencananya untuk diserahkan ke Ifa Sudewi, yang pada waktu itu Ifa habis mengikuti pelantikan di PN Sidoarjo,” urai Rohadi.

Rohadi tak mau tanggung-tanggung dalam menguraikan penjelasannya. Tanpa tedeng aling-aling ia juga menyebut merk HP tertentu yang dipakai dalam pembicaraan tersebut. “Hpnya merk Nokia, saya masih ingat, warna hitam yang disita sebagai barang bukti dalam perkara suap Saipul Jamil. Kenapa saya bungkam? Karena saya dilarang oleh Karel Tupu, bahwa untuk menyeret hakim-hakim cukup di Rohadi saja, yah saya ini,” Tambah Rohadi.

Baca Juga:  Densus 88 Anti Teror Bekuk 2 Terduga Teroris di Sidoarjo

Demi memperkuat penjelasannya, Rohadi juga menambahkan KPK seharusnya membuka CCTV yang berada di ruang kunjungan KPK Gedung lama C1, dan aula pada saat kunjungan hari Raya Idul Fitri 2016. Di luar itu , Rohadi juga menuntut seharusnya penyidik juga memeriksa Silvy, karyawan Dwi Dua Tour yang memesan tiket kereta api dan tiket pesawat untuk hakim dan karyawan PN Jakarta Utara yang akan plesiran ke Solo pada Mei 2016 dan berkunjung ke Medan mengantar pelantikan Lilik Mulyadi menjadi Hakim Tinggi Medan, pada 9 Juni 2016 lalu, ” jelasnya.

Tak hanya tiket pesawat dan kereta api, Silvy menurut Rohadi juga yang mengurus bus penjemputan dan jalan-jalan selama di Solo dan Medan. Sementara soal siapa-siapa saja hakim yang ikut ke Solo di bawah komando Rina Pertiwi SH, Pansek PN Jakarta Utara, dengan menggunakan uang haram dari Saipul Jamil, Rohadi juga meminta agar KPK menyita daftar penumpang Lion Air yang pernah mereka tumpangi.

Perjuangan Rohadi untuk mengungkap fakta yang sesungguhnya, memang tak tanggung-tanggung. Ia mengatakan bahwa KPK semestinya juga memerika CCTV loby Hotel Grand Aston Medan.

“Ini semua guna meyakinkan bahwa pembahasan mengenai permohonan bantuan putusan Saipul Jamil antara Hakim Dasma disaksikan oleh saya sendiri pada jam 13.00, hari Jumat 10 JUni 2016 lalu,” tambahnya.

Seperti diketahui, sepekan menjelang ditangkap, Rohadi bersama rombongan PN Jakarta Utara, diketahui menginap di Hotel Grand Aston Medan.

Sayangnya, menurut Rohadi ketika hal ini coba dikonfirmasi ke pihak Hotel Grand Aston Medan, pihak hotel mengaku tidak mengetahui tersangka (Rohadi) menginap di hotel tersebut sebelum ditangkap. Melalui Kuasa Hukumnya, Alamsyah Hamdani, pihak Hotel Grand Aston Medan memberikan keterangan terkait sejumlah Panitera dan Hakim yang disebut-sebut menginap di hotel yang terletak di jalan Balaikota Medan Sumatera Utara tersebut. Dalam keterangannta Alamsyah mengaku tidak mengetahui nama-nama yang disebut itu menginap di sana, karena kemungkinan besar pihak lain yangmemesan hotel tersebut.

Baca Juga:  Eni Saragih Sebut Sofyan Basir Terima Uang Suap PLTU Riau

Lebih lanjut Alamsyah menegaskan, KPK sendiri memang tidak menyita barang bukti apapun dari dalam hotel, seperti CCTV atau berkas. Dan penangkapan itu tidak diketahui oleh pihak hotel.

Terkait uang suap yang diterima Rohadi, dirinya juga merasa masih banyak kejanggalan dan banyak yang ditutup-tutupi. Dalam versi Rohadi, ada cerita lain tentang aliran dana tersebut.

Seperti yang pernah diberitakan, dalam persidangan yang digelar di PN Tipikor, Kemayoran Jakarta Pusat, 2 tahun lalu, Rohadi memang dinyatakan bersalah karena terbukti menerima suap sebesar Rp 300 juta dari kakak kandung Saipul, Syamsul Hidayatullah melalui pengacara Bertha Natalia.

Ketika itu, Majelis Hakim menjelaskan bahwa Rohadi terbukti memberikan uang sebesar Rp 50 juta untuk Bertha guna mengatur segala sesuatu terkait perkara pedangdut Saipul Jamil. Rohadi juga terbukti memiliki uang sebesar Rp 250 juta yang akan digunakan untuk menyogok hakim yang menangani perkara tersebut, yakni Ifa Sudewi.

Kendati menerima dakwaan dan putusan hakim, Rohadi nyatanya masih menyimpan kegelisahan terkait uang suap tersebut. Hal itu setidaknya sempat diungkapkannya saat dirinya kembali menjalani pemeriksaan KPK pada Juni tahun lalu. Ketika itu kepada wartawan, Rohadi kembali buka-bukaan. Ia menyatakan memang ada uang Rp 50 juta dari Saipul Jamil yang diserahkan kepadanya.

“Bahkan ada uang yang Rp 50 juta awal dari Saipul Jamil itu untuk jalan-jalan hakim dan keluarga besar PN Jakarta Utara ke acara Pak Gun Maryoso, nikahan di Solo itu,” kata Rohadi di Gedung KPK, Jakarta Selatan, Senin, (19/06/2017).

Soal uang tersebut, Rohadi menerimanya dari Saipul Jamil dalam dua paket. Paket pertama sebesar Rp 50 juta dan paket kedua Rp 250 juta. Rohadi lalu menceritakan alur uang Rp 50 juta itu.

Baca Juga:  Dianggap Acuh pada Penggemar, Via Vallen Jadi Gunjingan Netizen

“Saya serahkan pada ibu Rina Pertiwi, Panitera Sekretaris PN Jakut. Jadi saya tidak satu sen pun menikmati hasil kejahatan itu. Dan saya harus rela dihukum 7 tahun. Tapi supaya terang-benderang masalah Saipul Jamil, saya ingin siapa pun yang menikmati dan terlibat, harus merasakan atau diusut juga,” ujar Rohadi ketika itu.

Adapun uang Rp 250 juta digunakan untuk keperluan pelantikan ketua majelis Saipul Jamil, Ifa Sudewi menjadi Ketua PN Sidoarjo. Untuk menjernihkan masalah, Rohadi meminta KPK membuka CCTV, di mana ia diminta Karel Tuppu agar tidak menyebut sejumlah nama hakim dalam perkara itu. Karel merupakan hakim tinggi pada Pengadilan Tinggi (PT) Bandung yang juga suami penyuap Saipul Jamil, Berthanatalia.

“Harus ada, harus dibuka. Karena saya untuk CCTV itu dari mulai saya ditangkap, Pak Karel Tuppu sudah meminta agar saya tidak menyebut hakim-hakim Ifa Sudewi atau yang lainnya. Cukup sampai di saya,” sebut Rohadi.

Menurut Rohadi Karel Tupu harusnya dijadikan tersangka karena menghalang-halangi penyidikan sebagaimana Pasal 21 UU Tipikor. “Sama seperti pengacara Setya Novanto, Frederick yang juga ditangkap karena melakukan penghalang-halangan. Nah kenapa Karel tidak disidik sebagai tersangka,” Katanya.

“Nah soal cerita di balik uang senilai Rp 250 Juta itu, ada yang menarik. Uang itu sebenarnya akan diserahkan lewat Hakim Dasma yang akan ketemuan di Malang bersama Sulistiyoningsih, Panitera Pengganti PN Jakarta Utara,” jelas Rohadi dalam siaran persnya.

JARRAK.ID adalah portal berita daring yang konsisten dan terukur menyuguhkan informasi akurat. Mengabarkan fakta dengan berimbang tanpa menihilkan gagasan orisinil dan kritis. Setia menjadi platform bacaan publik.

Berita Populer