Connect with us

Kolom

Bisakah Menggugat Paslon Fiktif Nurhadi-Aldo?

Published

on

Akun Facebook Capres-Cawapres fiktif Nurhadi-Aldo (Doc. Net)

Penghujung tahun 2018, kita semua digemparkan atas beredarnya sepasang Capres-Cawapres di luar nama yang sudah diumumkan Komisi Pemiihan Umum alias paslon fiktif. Nama paslon tersebut ialah Nurhadi dan Aldo. Bisa dikroscek pada beberapa media sosial, terdapat beberapa akun yang seakan ingin memenangkan nurhadi-aldo pada pilpres 2019.

Seperti Twitter dan Instagram dengan akun @nurhadi_aldo. Pada tiap medsos tersebut paslon memberikan quotes, visi-misi dan program kerja apa saja yang akan dicapai oleh mereka ketika terpilih. Hal-hal tersebut terkadang bisa menghadirkan gelak tawa terhadap pembacanya.

Tidak ada niatan lain selain untuk memberikan nuansa baru. Bukan untuk mengajak masyarakat golput. Itulah yang pernah disampaikan dari admin atau penggagas dari munculnya paslon tersebut di salah satu stasiun televisi. Paslon fiktif ini dihadirkan sebagai kritik terhadap realitas dunia perpolitikan yang semakin tidak karuan, saling menghujat, saling menjatuhkan, saling membanggakan diri satu sama lain. Sehingga hal ini bisa menjadi alternatif kesegaran dari kejemuan yang terjadi.

Peredaran paslon fiktif ini sangat cepat berkat teknologi informasi saat ini. Penyampaian informasi mereka cukup sederhana dan menyentuh. Dengan gambar dan tulisan singkat, padat, dan jelas, justru terasa begitu ampuh. Karena masyarakat sekarang sudah menginginkan hal yang serupa. Jadi tidak mengheraankan mereka menjadi buah bibir tahun ini.

Membaca Symbol

Dibutuhan kelihaian, kecerdikan, dan kecerdasan seseorang untuk membangun hal baru dan segar seperti ini. Pengangkatan paslon Nurhadi-Aldo ini dapat dikatakan sebagai kreativitas anak muda dalam mengekpresikan pendapatnya. Yasraf A. Piliang membagi kreativitas menjadi dua kategori. Pertama kreativitas konstruktif yang mengarah terhadap pemecahan masalah ke arah lebih baik. Kedua kreativitas destruktif yang menciptakan hal baru untuk sebuah kekacauan semata.

Baca Juga:  Hanura Tuding Amien Rais Politikus Bermulut Comberan!

Konsekuensi pada setiap postingan ialah penyampaian simbol. Simbol digunakan untuk menginformasikan suatu ide atau gagasan besar yang dituangkan menjadi sebuah objek sehingga mudah dicerna oleh target. Simbol memang tidak dapat mengubah sebuah bangsa secara langsung. Namun simbol memiliki kekuatan dalam mengkonstruksi realitas  yang mampu menggiring orang.

Pierre Bourdieu dalam bukunya Language & Symbolic Power mengutarakan bahwa kekuatan simbol dalam konteks beroperasinya sebuah mekanisme kekuasaan tertentu di balik sebuah simbol. Simbol-simbol yang terdapat pada  setiap postingan yang menyangkut Nurhadi-Aldo ada kekuatan besar yang ingin menyampaikan pesan besar pula terhadap sasaranya.

Jika dilihat dari setiap postingan medsos paslon fiktif ini terlihat seperti biasa saja. Namun bila dilihat secara seksama, terdapat konsekuensi pada beberapa hal dan menjadikan sebuah pertanyan besar. Ada pesan besar yang ingin disampaiakan oleh penggagas. Selain memberikan udara segar atas kejenuhan politik, di sini ada satu pesan tentang realitas pikiran masyarakat indonesia sekarang, terutama generasi muda, di balik paslon Nurhadi-Aldo.

Pertama penulisan nama NURHADI-ALDO. Pada setiap postingan penamaan paslon ini berbeda pada bagian 2 huruf belakang nurhadi dan 3 huruf belang aldo. Lima huruf tersebut berwarna merah lainnya berwarna hitam sehingga ketika dilihat dan digabungkan sesuai dengan kesamaan warna menjadi seperti ini D-I-L-D-O dan bila dilafalkan menjadi DILDO. Hebatnya, kata tersebut juga menjadi akronim dari paslon fiktif ini dan mudah diingat. Dildo sendiri merupakan suatu alat permainan seks yang digunakan oleh perempuan untuk memuaskan diri  dan bentukya sendiri menyerupai kelamin laki-laki.

Kedua, yaitu warna merah yang terdapa pada nama koalisi ini sendiri yang mengatasnamakan KOALISI INDONESIA TRONJAL-TRONJOL MAHA ASIK. Pada kalimat ini juga terdapat warna merah pada beberapa huruf ketika diejakan K-O-N-T-O-L-M-A-S ketika diejakan menjadi KONTOLMAS. Sehingga ada penggabungan dua suku kata kontol dan mas. Kontol sendiri yaitu kelamin laki-laki. Mas sebutan terhadap laki-laki di lingkungan masyarakat Jawa.

Baca Juga:  GNPF Ingin Koalisi Prabowo Tiru Jokowi dalam Pilih Cawapres

Ketiga penggunaan singkatan terhadap suatu program contohnya postingan tanggal 11 januari 2019 di twitter @nurhadi_aldo tentang pendidikan yaitu Pendidikan Ereksi Langsung Ejakulasi Rangsangan. Ketika dibaca apa maksudnya tidak jelas sekali, seakan memaksakan diri mebuat suatu singkatan. Ketika dibaca huruf pertama pada setiap kata akan membetuk ejaan P-E-L-E-R. Peler sendiri menggambarkan bagian vital lelaki berupa bola yang berbentuk biji berada dibawah kelamin laki-laki sendiri.

Hal apa yang menyebabkan para pengikut paslon ini seakan mendukung penggunaan beberapa simbol pada setiap postingan. Seakan hal ini menjadi wajar saja. Padahal di tatanan masyaraat sendiri melafalkan kelamin di depan publik menjadi hal yang tabu karena melewati dari batas yang seharusnya menjadi bagian privasi. Namun berbeda dengan apa yang kta lihat bersama sekarang menjadi konsumsi publik. Umpatan berupa pelafalan kelamin pun seakan biasa.

Kretivitas anak muda ini perlu dipertanyakan kembali. Pertanyaannya, benarkah kreativitas mereka untuk mengarah kepada hal yang sifatnya konstruktif atau malah mereka akan jatuh terhadap kategori kreativitas bagian kedua: kretivitas destruktif. Ketika mereka dikategorikan jatuh kreativitas kedua lalu apa konsekuensinya?

Singkatan atau simbol yang mereka gunakan apakah bisa dimasukkan kategori Pornografi itu sendiri? Sebaimana yang tertulis pada UU Nomor 44 Tahun 2008 Tentang Pornografi Pasal 1 Ayat 1 yang berbunyi: “Pornografi adalah gambar, sketsa, ilustrasi, foto, tulisan, suara, bunyi, gambar bergerak, animasi, kartun, percakapan, gerak tubuh, atau bentuk pesan lainnya melalui berbagai bentuk media komunikasi dan/atau pertunjukan di muka umum, yang memuat kecabulan atau eksploitasi seksual yang melanggar norma kesusilaan dalam masyarakat”.

Selain itu, tentu ada narasi besar di balik ini semua. Salah satuya ialah realitas pikiran masyarakat indonesia. Kenapa hal tersebut bisa terjadi? Sebelum dijawab, perlu diingat bersama bahwa pornografi salah satu senjata untuk meruntuhkan suatu bangsa selain Narkoba. Apalagi kreativitas munculnya paslon fiktif Nurhadi-Aldo ini dikaryakan oleh pemuda bangsa Indonesia. Mari refleksi bersama dalam setiap karya yang akan diperembahkan untuk kemajuan bangsa ini.

Baca Juga:  Kita dan Yang Hilang

Berita Populer