Connect with us

Daerah

Begini Pernyataan Lengkap Dewan Pers Soal Meninggalnya Wartawan Yusuf

JARRAK.ID

Published

on

Illustrasi/Net

BANJARMASIN – JARRAK.ID – Wartawan Kemajuan Rakyat di Kotabaru, Kalimantan Selatan, Muhammad Yusuf alias Usuf, meninggal setelah mengeluh sesak nafas dan sakit dada disertai muntah-muntah, Minggu (10/6/2018) sekitar pukul 14.00 WITA di Lapas Kelas II B Kotabaru.

Usuf sempat dilarikan ke UGD RSUD Kotabaru untuk menerima tindakan medis. Namun, nyawanya tidak bisa diselamatkan.

“Saudara Yusuf dinyatakan meninggal dunia pada pukul 14.30 WITA di RSUD Kotabaru,” kata AKBP Suhasto lewat siaran pers, Minggu malam (10/6/2018).

Menurut Kapolres Kotabaru AKBP Suhasto, Yusuf ditetapkan sebagai tersangka sudah melalui koordinasi dari Dewan Pers. Diketahui, Muhammad Yusuf (42) dilaporkan dan diperkarakan di kepolisian oleh sebuah perusahaan sawit di Kalimantan Selatan atas pemberitaan yang disusunnya.

“Dewan Pers menyatakan duka cita sedalam-dalamnya dan berharap agar almarhum mendapatkan tempat terbaik di sisi-NYA,” tulis keterangan resmi Dewan Pers terkait kasus tersebut, Senin (11/6/2018).

Disebutkan sebelumnya, penahanan almarhum Muhammad Yusuf dilakukan atas rekomendasi Dewan Pers. Menanggapi itu, Dewan Pers mengaku tidak pernah menerima pengaduan perkara ini. Kecuali, setelah polisi meminta surat permintaan keterangan Dewan Pers selaku ahli.

“Dewan Pers tidak pernah menerima pengaduan dari pihak-pihak yang dirugikan oleh berita yang dibuat Muhammad Yusuf,” tulis pernyataan Dewan Pers.

Menurut Dewan Pers, pihaknya terlibat dalam penanganan kasus ini pasca Kapolres Kotabaru, Kalimantan Selatan, AKBP Suhasto mengirim surat permintaan Keterangan Ahli pada 28 Maret 2018 bulan lalu. Sehari setelah itu, sebut Dewan Pers, tiga penyidik dari Polres Kotabaru Kalimantan Selatan menyambangi kantor Dewan Pers.

Dilansir dari publica-news.com, ketiga penyidik mendatangi Dewan Pers untuk meminta keterangan Ahli dari Sabam Leo Batubara yang telah ditunjuk Dewan Pers untuk memberikan Keterangan Ahli terkait kasus ini.

Pada kesempatan itu, penyidik menunjukkan dua berita untuk dikaji. Berdasarkan Berita Acara Pemeriksaan (BAP), Ahli Pers Dewan Pers menilai, kedua berita tersebut tidak uji informasi, tidak berimbang, dan mengandung opini menghakimi.

“Narasumber dalam berita tersebut tidak jelas dan tidak kredibel,” sebut Ketua Dewan Pers Yoseph Adi Prasetyo melalui keterangan resminya.

Setelah hari itu, penyidik dari pihak kepolisian kembali mendatangi Dewan Pers untuk mengajukan 21 artikel lain guna diuji dan ditelaah oleh Dewan Pers selaku ahli.

Berikut hasil telaah ahli dari Dewan Pers terhadap dua berita yang dilaporkan dalam pertemuan tanggal 29 Maret 2018 dan 21 berita yang dilaporkan dalam pertemuan tanggal 2-3 April 2018:

1. Berita-berita tersebut, secara umum tidak memenuhi standar teknis maupun Etika lurnalistik

2 Rangkaian pemberitaan yang berulang-ulang dengan muatan yang mengandung opini.

3. Pemberitaan berulang yang hanya menyuarakan kepentingan salah satu pihak, mengindikasikan berita tersebut tidak bertujuan untuk kepentingan umum dan tidak sesuai dengan fungsi dan peranan pers sebagaimana diamanatkan dalam pasal 3 dan pasal 6 Undang-Undang No 40/1999 tentang Pers.45

4. Pihak yang dirugikan oleh rangkaian pemberitaan tersebut dapat menempuh jalur hukum dengan menggunakan UU lain di luar UU No 40/1999 tentang Pers.

JARRAK.ID adalah portal berita daring yang konsisten dan terukur menyuguhkan informasi akurat. Mengabarkan fakta dengan berimbang tanpa menihilkan gagasan orisinil dan kritis. Setia menjadi platform bacaan publik.

Advertisement

Populer