Connect with us

Politik

Banyak Tokoh Oposisi Ditangkap dengan Tuduhan Makar, Rizal Ramli: Kita Kembali ke Zaman Otoriter!

JARRAK.ID

Published

on

Mantan Menko Kemaritiman, Rizal Ramli (Doc. Net)

JAKARTA – JARRAK.ID – Rizal Ramli mengkritik pemerintahan Presiden Joko Widodo yang dianggapnya otoriter, dengan menggunakan penegak hukum untuk menangkap tokoh-tokoh kubu oposisi dengan tuduhan makar dalam aksi 22 Mei.

Menurutnya, salah satu bentuk sikap otoriter yang dilakukan rezim Jokowi dengan menggunakan penegak hukum, yaitu kepolisian untuk menangkap sejumlah aktivis oposisi dengan menggunakan pasal makar.

“Saya sedih sekali ini kita kembali ke zaman otoriter apa yang digunakan untuk menangkap orang sembarangan menggunakan undang-undang anti makar,” katanya saat menggelar konferensi pers bersama massa aksi yang tergabung dalam Gerakan Nasional Kedautalan Rakyat (GNKR) di bilangan Menteng, Jakarta Pusat, Rabu, (22/05/2019).

Rizal Ramli mengatakan bahwa makar atau kudeta terhadap pemerintah yang sah dapat dilakukan jika didukung oleh organisasi yang memiliki senjata.

“Saya mohon maaf makar itu kalau dalam bahasa Inggrisnya kudeta itu hanya boleh dilakukan dan bisa dilakukan oleh organisasi yang bersenjata tidak bisa rakyat biasa tanpa senjata dengan damai melakukan kudeta,” tegasnya.

Kendati demikian, Rizal Ramli meminta pada pemerintahan Presiden Jokowi, aparat kepolisian tidak bertindak refresif kepada massa aksi 22 Mei yang menuntut agar Bawaslu memutuskan pemilu 2019 curang.

Seperti diketahui, sejumlah tokoh oposisi seperti Mayjen TNI (Purn) Kivlan Zen, aktivis yang juga advokat Eggi Sudjana, tokoh Tionghoa Lieus Sungkharisma bahkan tokoh reformasi Amien Rais dilaporkan ke polisi atas tuduhan perbuatan makar. Beberapa diantaranya sudah dijadikan tersangka dan ditangkap.

Baca Juga:  Dahnil Simanjuntak Diminta Jangan Seret Nama Presiden dalam Kasus Dugaan Penyimpangan Dana Kemah

JARRAK.ID adalah portal berita daring yang konsisten dan terukur menyuguhkan informasi akurat. Mengabarkan fakta dengan berimbang tanpa menihilkan gagasan orisinil dan kritis. Setia menjadi platform bacaan publik.

Advertisement

Berita Populer