ATASI KRISIS AIR DI BULELENG TIMUR, GUBERNUR BALI BANTU RP 20 M

3 min read

SINGARAJA-JARRAK.ID – Krisis air bersih yang menjadi persoalan klasik di Buleleng terutama di Buleleng Timur yang sering menimbulkan konflik horizontal, memancing rasa prehatian Gubernur Bali, DR Ir I Wayan Koster, MM.

Saat Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana curhat dalam laporannya saat acara ground breaking atau peletakan batu pertama pembangunan megaporyek Bendungan Tamblang, Rabu (12/8/2020), langsung direspon Gubernur Koster.

Tanpa basah-basih Gubernur Koster langsung menjanjikan anggaran dari Pemprov Bali. Jumlahnya lumayan besar yakni Rp20.000.000.000 pada tahun 2021 mendatang.

Ia berharap dengan bantuan anggaran sebesar itu, persoalan kirisis air bersih di Desa Les dan Desa Penuktukan dapat segera terselesaikan. Anggaran tersebut dapat digunakan untuk pengadaan instalasi air dari SPAM Air Sanih, ke Desa Les, Penuktukan, hingga Desa Sembiran tempat sang gubernur berasal.

“Persoalan air ini akan jadi prioritas saya, sehingga masyarakat di wilayah timur tidak mengeluh soal air saat di musim kemarau. Akan saya tuntaskan. Saya akan diskusikan dengan Sekda Bali yang juga sebagai Ketua TAPD Provinsi Bali, untuk dianggarkan sebesar Rp20.000.000.000,” janji Gubernur Koster.

Sementara itu, Bupati Bangli, I Made Gianyar menyebutkan pertemuan antar dua kepala daerah sudah sangat tepat dan bagus. Ia menilai Bupati Buleleng sudah sangat memahami bahwa kehidupan ini tentang semua orang, bukan hanya tentang Kabupaten Buleleng saja atau Kabupaten Bangli saja. Sehingga kesepahaman ataupun tawaran dari Bupati Bangli bisa didetailkan lagi secara teknis oleh para pejabat teknis di masing-masing kabupaten. Semua terkait dengan pemanfaatan air di Bangli bisa ditarik ke atas antar Bupati dengan melakukan kerjasama antar daerah. “Sehingga nanti kalau sudah di atas atau antar Bupati, pemecahan masalah bisa mulai dari akar permasalahannya. Nanti teknisnya akan diatur kembali kajiannya,” paparnya.

Bupati Buleleng, Putu Agus Suradnyana, menjelaskan bahwa untuk menyelesaikan krisis air bersih di wilayah Kecamatan Tejakula diperlukan jalina kerjasama antar pemerintah daerah yakni Bupati Bangli, I Made Gianyar selaku pemilik sumber air di Desa Batih, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, dengan Bupati Buleleng.

Kerjasama ini sebagai upaya untuk menyelesaikan persoalan air khususnya di Desa Les dan Desa Penuktukan, Kecamatan Tejakula.

Untuk mematangkan kerjasama tersebut, Bupati Agus Suradnyana dan Bupati I Made Gianyar melakukan pertemuan di Kintamani, Bangli, Selasa (11/8/2020).

Bupati Agus menjelaskan dirinya bertemu dengan Bupati Kabupaten Bangli untuk menyelesaikan persoalan air di Desa Les dan Desa Penuktukan. Dalam pertemuan tersebut, diskusi dilakukan untuk mengembalikan kewenangan penyelesaian air ini dengan perjanjian atau nota kesepahaman antar bupati. Bukan lagi desa adat dengan masyarakat. Hal ini dilakukan untuk menghindari kerancuan penyelesaian persoalan masalah air. “Kalau antar bupati kan ada indikator teknis, ekonomi di dalamnya. Harus diselesaikan semua. Kalau volumenya kurang baru kita tambah lagi,” jelasnya.

Mengenai tindak lanjut dari nota kesepahaman, mantan anggota DPRD Provinsi Bali ini mengatakan bahwa ia sudah merapatkan seluruh instansi atau SKPD terkait untuk membuat kajian masing-masing. Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR) diberikan tugas untuk membuat kajian teknis dibantu dengan PDAM. Dalam kajian teknis terdapat kajian volume dan model. Sedangkan, Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) membuat kajian ekonomi dan budaya mengenai sesajen yang akan diberikan. Semua kajian dikoordinir oleh Asisten Bidang Pemerintahan.

“Mengingat kita tinggal di Bali. Dan sumber air tersebut disucikan oleh masyarakat sehingga kita harus tahu tentang sesajen atau upacara apa yang harus dilakukan sebelum memanfaatkan sumber air tersebut,” ujar Agus.

Sejatinya, kata Agus, stok air masih ada 50 liter per detik di Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Spam Air Sanih. Namun kendalanya, pihaknya belum bisa menyalurkan air tersebut ke Desa Les dan Penuktukan. Dikarenakan belum adanya saluran yang dibangun sampai ke bagian timur.

Penulis: Francelino
Editor: Sarjana