Connect with us

Other

Amien Rais Berbicara Pencapaian dan Kegagalan Era Reformasi

JARRAK.ID

Published

on

YOGYAKARTA – JARRAK.ID – Salah satu tokoh lahirnya reformasi, Amien Rais mengatakan jika di usia era yang sudah masuk 20 tahun ini, sejatinya masih banyak persoalan mendesak yang mesti diselesaikan. Salah satunya terkait penegakan hukum.

“Harus diakui, penegakan hukum di republik ini masih tebang pilih. Korupsi semakin merajalela,” kata Amien dalam acara ‘Pangajian Songsong Ramadhan’ di Masjid Muthohhirin Nitikan, Yogyakarta, Kamis malam, (10/05/2018).

Meski era reformasi, mempunyai lembaga antirasuah bernama Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), namun menurut Amien kinerjanya belumlah maksimal. “Punya KPK tapi seperti dagelan. Jadi kalau ada kasus yang gede-gede ada backup dari kekuasaan, KPK kemudian minger (berbalik arah),” imbuh Amien Rais.

Menurut Amien, KPK saat ini yang dikejar hanya Operasi Tangkap Tangan (OTT) saja. Kerugian negara kecil, kisaran Rp 1, 50, sampai 100 juta. Sementara, kasus besar ditenggelamkan.
Diibaratkannya seperti obstruction of justice. Kasus kecil dimeriahkan, sementara yang besar tidak pernah diurusi kemudian membuncah.

“Cuma OTT, kemudian mendapat sorak-sorai dari rakyat kecil dianggap sudah hebat. Padahal kenyataannya itu hanya obstruction of justice,” tutur mantan Ketua Umum Muhammadiyah tersebut.

Reformasi Penegakan Hukum

Pada aspek penegakan hukum, Amien Rais meminta reformasi kode etik dan etiket dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. “Bagaimana dengan media sosial itu, penuh caci maki, penuh kepalsuan. Penuh memutar balikkan fakta,” papar mantan Ketua MPR tersebut.

Pasalnya menurut Amien Rais, reformasi penegakan hukum merupakan instrumen paling fundamental untuk mewujudkan tata kelola pemerintahan yang sesuai dengan asas demokratisasi.

“Sejak dulu aspek reformasi hukum memang sulit dilakukan. Karena ini pada satu sisi disebabkan oleh lemahnya rezim yang sedang berkuasa,” singgung Amien Rais.

Baca Juga:  Kiat Mengatasi Flu Saat Bulan Ramadhan

Pencapaian Reformasi

Namun dari segala kekurangan itu, setidaknya sudah banyak hal yang telah tercapai. Pertama, adalah sentralisasi kekuasaan yang sekarang jadi disentralisasi. “Artinya apa, otonomi daerah itu memberi kekuasaan kepada kabupaten, kota, dan semua provinsi lebih bebas membangun wilayah masing-masing,” kata Amien Rais.

Sebab, dengan disentralisasi itu otonomi daerah nampak sekali rakyat bisa membangun sesuai dengan kemampuan atau swadaya wilayah masing-masing. Sehingga bisa dilihat sekarang, hampir semua airport, jalan raya, gedung-gedung, sekolahan, itu lebih bagus. “Kedua, kita sudah mengembalikan ABRI atau TNI kepada fungsi aslinya. Yaitu TNI sebagai pertahanan dan Polri keamanan,” imbuh Amien Rais.

Kedua, dihapusnya dwi fungsi ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia). Amien Rais menegaskan kebijakan tersebut sangat tidak masuk akal dan berpotensi meruntuhkan spirit demokratisasi yang sedang dibangun. “Kemudian yang ketiga, kita sekarang tidak ada lagi, misalnya pembredelan. Kebebasan pers dijamin hampir maksimal,” tutur Amien Rais.

Berikutnya yang perlu disyukuri adalah bahwa sekarang ini dengan reformasi itu maka rakyat merasa sederajat. Sudah tidak ada lagi yang merasa lebih unggul, lebih superior dari orang lain. Mengapa sederajat, karena sekarang ini rakyat malah yang mengontrol mengawasi pemimpinnya. Kalau dulu pemimpinnya yang mengawasi rakyatnya.

“Prinsipnya the leaders control the people, jadi rakyat gerak takut karena diawasi terus. Sehingga dulu ada sayap kanan, sayap kiri. Petrus dan lain-lain. Sekarang sebaliknya the people control the leaders. Rakyat yang mengawasi kepemimpinan para politisi atau para pejabatnya,” pungkas Amien Rais

 

JARRAK.ID adalah portal berita daring yang konsisten dan terukur menyuguhkan informasi akurat. Mengabarkan fakta dengan berimbang tanpa menihilkan gagasan orisinil dan kritis. Setia menjadi platform bacaan publik.

Berita Populer