Connect with us

Bisnis

Ada Tren Peningkatan Nilai Tukar Pekan Ini

JARRAK.ID

Published

on

JAKARTA-JARRAK.ID- Adanya kemungkinan bahwa nilai tukar rupiah dengan dolar Amerika Serikat (USD) menguat adalah kabar baik bagi perkembangan perekonomian Indonesia. Kemungkinan tersebut ditengerai karena adanya peningkatan nilai tukar dalam sepekan ini.

Meski begitu, analis PT Binaartha Sekuritas, Reza Priyambada menyatakan bahwa tren membaiknya nilai tukar harus diuji dengan serius, khususnya masalah ketahanannya setelah sepekan lalu menurun dan sekarang membaik.

“Diharapakan pelemahan tersebut dapat dikaji seiring masih melemahnya laju USD yang terimbas kondisi politik di dalam negerinya dan kembali membuat rupiah untuk dapat menemukan momentum kenaikannya,” jelasnya, di Jakarta, Minggu (17/3/2018).

Menurut pembacaan Reza, ruang gerak rupiah sepekan lalu lebih baik alias menguat seiring dengan melemahnya laju USD. Melemahnya USD disebabkan oleh kondisi politik AS yang tersendat karena adanya pemecatan Menlu AS, juga ada kekhawatiran akan adanya perang dagang antara AS dengan Tiongkok.

Adapun nilai tukar rupiah menguat sekitar 0,25 persen dari sebelumnya yang melemah hingga 0,18 persen. Pada pekan sebelumnya, rupiah sempat melemah ke level 13.766 atau sebelumnya juga di level 13.795.

Kemungkinan level tertinggi yang dicapai di angka 13.743 atau di bawah level sebelumnya di angkat 13.730. Laju rupiah di pekan kemarin bergerak di atas target batas bawah (support) 13.782 dan batas atas (resisten) 13.762.

“Di luar dugaan, perkiraan akan terapresiasinya USD karena membaiknya data penambahan pekerjaan di AS tidak terjadi dimana berbalik melemah setelah merespon negatif rilis penggajian pekerjaan AS yang lebih rendah dari estimasi,” imbuhnya.

Sebagai informasi, lemahnya laju USD ditengarai karena adanya kekhawatiran akan terjadinya perang dagang melalui kebijakan proteksionis Presiden Trump.

Selain itu, karena terapresiasinya JPY setelah merespon pemberitaan negatif skandal kronisme yang melibatkan PM Jepang dan Menteri Keuangannya, mampu dimanfaatkan sejumlah mata uang Asia lainnya. Namun, laju Rupiah tidak mampu memanfaatkan kondisi tersebut seiring dengan adanya rilis neraca perdagangan yang kembali mencatatkan defisit.

Neraca perdagangan Indonesia selama Februari 2018, tercatat defisit sebesar USD 0,12 miliar atau sekitar Rp 1,6 triliun (kurs Rp 13.700) karena laju impor selama Februari yang naik lebih tinggi dibandingkan ekspor.

Selain itu, pelemahan juga dipicu respon negatif pelaku pasar terhadap rilis Kementerian Keuangan yang mencatat total utang pemerintah hingga akhir Februari 2018 mencapai Rp 4.035 triliun atau naik 13,46 persen dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 3.556 triliun.

“Tetap cermati dan waspadai berbagai sentimen yang dapat menghalangi potensi penguatan lanjutan pada Rupiah. Diperkirakan laju Rupiah akan berada pada rentang support 13.758 dan resisten 13.732,” tandasnya.

JARRAK.ID adalah portal berita daring yang konsisten dan terukur menyuguhkan informasi akurat. Mengabarkan fakta dengan berimbang tanpa menihilkan gagasan orisinil dan kritis. Setia menjadi platform bacaan publik.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Populer