Connect with us

Daerah

Absen Pemeriksaan Kasus Korupsi, KPK Tuding Mendag Tak Berikan Contoh yang Baik

JARRAK.ID

Published

on

Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukita (Doc. Net)

JAKARTA – JARRAK.ID – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menilai Menteri Perdagangan (Mendag), Enggartiasto Lukita tidak memberikan contoh yang baik, karena absen dalam pemeriksaan sebagai saksi untuk kasus dugaan suap dan gratifikasi anggota DPR, Bowo Sidik Pangarso.

“Nah itu yang kami sesalkan karena kami pandang Mendag (Enggartiasto) tidak beri contoh yang baik sebagai pejabat publik yang semestinya dapat memprioritaskan proses pemeriksaan dan memenuhi panggilan penyidik,” kata Kabiro Humas KPK Febri Diansyah di KPK Jl Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Rabu (14/08/2019).

Padahal kesaksian Enggar sangat dibutuhkan KPK dalam rangka menggali tentant proses pembahasan Permendag tentang Gula Kristal Rafinasi.

“Fokus KPK sekarang adalah pada dugaan penerimaan, salah satunya terkait proses Permendag tentang Gula Kristal Rafinasi. Makanya kami kemarin perlu melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah pejabat di Kemendag dan juga Mendag itu sendiri,” ujarnya.

Tercatat Enggar sudah tiga kali tidak memenuhi panggilan pemeriksaan KPK.

Kini kasus Bowo Sidik tersebut sudah bergulir di persidangan. Febri berharap Enggartiasto atau pejabat Kemedag yang lain agar hadir bila dipanggil untuk memberikan keterangan dalam persidangan Bowo Sidik maupun dalam di penyidikan kasus yang sedang ditangani KPK.

“Jadi nanti kalau ada pejabat-pejabat yang ada di Kemendag dipanggil sebagai saksi baik persidangan untuk terdakwa Bowo Sidik ataupun dalam perkara lain yang kami tangani, saat ini seperti suap impor bawang putih, karena ini ada keterkaitan dengan Kemendag dan Kementan. Jadi kami ingatkan pimpinan dari instansi masing-masih termasuk Mendag agar menunjukkan komitmennya untuk bisa bersikap tegas agar bawahannya mau diperiksa. termasuk dari pihak-pihak pejabat lain yang akan diperiksa,” ujar Febri.

Meski demikian, Febri belum memastikan kapan rencana Enggartiasto dipanggil dalam persidangan Bowo Sidik. Menurut Febri, semua itu tergantung pertimbangan jaksa.

“Kalau persidangan saya kira nanti pertimbangan JPU ya apakah dibutuhkan atau tidak. Yang pasti dari dugaan peristiwa terkait gratifikasi itu salah satunya adalah terkait dengan gula kristal rafinasi, ada DAK, pemberian saat munas Partai, dan ada BUMN,” ujarnya.

Dalam persidangan di Pengadilan Tipikor Jakarta siang tadi, Bowo didakwa menerima suap sekitar Rp 2,6 miliar terkait PT Humpuss Transportasi Kimia (HTK). Selain itu, Bowo didakwa suap berkaitan dengan kepentingan perusahaan lain, yaitu PT Ardila Insan Sejahtera (AIS). Suap yang diterima Bowo sebesar Rp 300 juta dari Lamidi Jimat sebagai Direktur Utama PT AIS.

Tak berhenti di situ, Bowo didakwa menerima gratifikasi total SGD 700 ribu dan Rp 600 juta berkaitan dengan jabatannya. Namun jaksa tidak membeberkan dari siapa Bowo menerima uang itu.

JARRAK.ID adalah portal berita daring yang konsisten dan terukur menyuguhkan informasi akurat. Mengabarkan fakta dengan berimbang tanpa menihilkan gagasan orisinil dan kritis. Setia menjadi platform bacaan publik.

Advertisement

Populer